Waspadai Penyebab Biduran pada Anak dan Cara Mengatasinya

Biduran merupakan salah satu penyakit yang kerap kali dialami, baik pada orang dewasa maupun pada anak. Gejala biduran pada anak akan menyebabkan anak menjadi rewel karena rasa gatal dan tidak nyaman. Guna menghindari hal tersebut, sebaiknya pahami penyebab biduran dan cara mengatasinya.

Gejala Biduran

Biduran atau dalam istilah medis dikenal dengan urtikaria, merupakan reaksi kulit yang ditandai dengan bilur menonjol keluar berwarna merah atau putih dan terasa gatal. Bilur-bilur ini muncul dengan ukuran dan lokasi yang berbeda-beda. Kondisi ini disebabkan oleh sistem imun yang mengeluarkan zat histamin akibat respon terhadap zat yang dianggap beracun oleh tubuh.

Bilur atau ruam yang muncul akibat biduran umumnya berbentuk oval atau panjang seperti cacing. Munculnya bilur-bilur umumnya disertai dengan rasa gatal yang amat sangat, ruam berwarna merah atau putih dan meninggalkan bekas luka pada bagian wajah, badan, tangan dan kaki. Namun kondisi ini biasanya akan hilang dalam beberapa jam, hari atau minggu.

Penyebab Anak Biduran

Beberapa zat atau kondisi tertentu umumnya menjadi penyebab biduran pada anak. Zat yang dapat memicu terjadi biduran, umumnya adalah zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi seperti makanan, obat-obatan dan zat sejenis lainnya. Infeksi virus seperti flu juga bisa menjadi penyebab terjadinya biduran pada anak.

Selain itu bahan lateks atau karet, gigitan serangga, olahraga, suhu dan aktivitas berlebihan bisa menjadi faktor pemicu terjadi biduran. Penyebab utama biduran memang sulit untuk diketahui meskipun sudah melakukan pemeriksaan uji alergen dan IgE spesifik. Umumnya dokter akan mendiagnosa berdasarkan kejadian terakhir sebelum terjadinya biduran dan riwayat penyakit.

Alergen, virus atau benda asing lainnya masuk kedalam tubuh akan memicu reaksi dari sistem imun. Histamine dan beberapa senyawa kimia lain akan dilepaskan oleh lapisan bawah kulit sehingga menyebabkan terjadinya bilur dan ruam. Histamin juga berpotensi menyebabkan bocornya pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya penumpukan cairan di bawah kulit.

Beberapa penyakit tertentu juga bisa menjadi pemicu terjadinya biduran kronis, seperti gangguan tiroid, kanker, infeksi saluran kemih, karies gigi, sinusitis dan penyakit autoimun. Biduri kronis dapat terjadi dalam waktu yang lama, bisa beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Namun biduran kronis jarang terjadi pada anak.

Cara Mengatasi Biduran

Ketika si kecil sedang mengalami biduran sebaiknya hindari untuk menggaruk kulit yang gatal, hindari menggunakan sabun yang mengandung bahan kimia keras dan gunakanlah pakaian yang ringan dan longgar. Anda juga bisa memandikan si kecil untuk membersihkannya dari zat pemicu biduran dengan air dingin atau suhu kamar, jangan gunakan air hangat.

Anda juga bisa memberikan obat antihistamin oral untuk meringankan rasa gatal dan tidak nyaman yang membuat anak menjadi rewel. Umumnya gejala tersebut akan hilang dalam waktu dua hari. Jika dalam waktu dua hari gejala tak kunjung menghilang segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Perhatikan si kecil selama mengalami biduran, jika anak mengalami gejala pernafasan seperti sesak nafas, wajah atau lidahnya membengkak atau bahkan pingsan segera cari pertolongan medis. Gejala-gejala tersebut merupakan pertanda bahwa anak mengalami syok anafilaktik, reaksi alergi yang berpotensi fatal.

Biduran memang sulit dicegah, terutama karena penyebab biduran orang bisa berbeda-beda,  oleh karenanya penanganan biduran pada anak menjadi sangat penting untuk diketahui. Jika masih bingung Anda bisa berkonsultasi dengan para ahli seputar masalah kesehatan anak di laman generasimaju.co.id. Berbagai informasi bermanfaat lainnya bisa Anda baca di laman tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *